PELAJARAN BAHASA

Table of Contents
 
Gambar: Diambil dari beberapa sumber yang viral dan diolah dikit oleh Ainul


Seorang guru berdiri di depan. Persis di samping papan. Tangannya menari-nari di papan itu, memunculkan serangkaian kata: pelajaran bahasa. Mengubah struktur kalimat aktif menjadi pasif dan sebaliknya.
 
Dia lalu terdiam sebentar. Kerut di keningnya menjelaskan ia tengah memikirkan sesuatu. Barangkali ia tengah menimbang-nimbang kalimat apa sebagai contoh. Ia hendak menulis namun urung.
 
Seorang guru mesti bisa memancing muridnya untuk berani berkomentar, pikirnya. Ia pun menoleh ke murid-muridnya.
 
“Ada kejadian apa hari ini?”, tanyanya.
 
"Ada demonstrasi, Pak Guru. Dan seorang ojol terlindas mobil polisi."
 
Ia diam sebentar. Lalu menggumamkan kalimat itu di kepalanya.
 
"Coba ulangi bagian kalimat kedua."
 
“Seorang ojol terlindas mobil polisi”, ulangnya.
 
Ia pun menulis kalimat itu di papan. SEORANG OJOL TERLINDAS MOBIL POLISI.
 
Ia diam sebentar, tampak konsentrasi mengamati kalimat yang baru saja ditulisnya. Lalu ia buru-buru menghapusnya dan mengganti dengan:
 
SEORANG OJOL DILINDAS OLEH MOBIL POLISI.
 
Dipandangnya sebentar kalimat itu. Ia menghela nafas sebentar. Rasanya itu kalimat yang lebih tepat. Sekarang ia menatap kembali murid-muridnya.
 
"Perhatikan baik-baik. Ini contoh kalimat apa?"
 
Seorang siswa di pojok belakang mengacungkan tangan.
 
"Struktur kalimat pasif, Pak Guru."
 
Tiba-tiba seorang murid yang lain memprotes.
 
"Kenapa kata TERLINDAS diganti jadi DILINDAS, Pak Guru?"
 
Ia ingin menjawab, tapi urung. Rasanya ia butuh berpikir panjang untuk menjelaskannya. Ini bukan soal struktur kalimat saja, pikirnya. Ia memutuskan untuk menuangkannya dalam tulisan.
 
*
Di kamarnya, sebuah petakan kos-kosan yang sempit di lantai atas, ia duduk. Pada cermin di depannya, ia menatap dirinya. Dirasakan di kepalanya, begitu banyak hal yang ingin ia sampaikan. Terlintas: terlindas, dilindas, dan tewas.
 
Ia berpikir keras bagaimana harus menyampaikan pikirannya kepada siswa-siswanya. Tapi tampaknya ia demikian hati-hati. Hingga terasa ia membungkam dirinya sendiri untuk sekadar menyalurkan pengetahuan.
 
Perubahan kata TERLINDAS ke DILINDAS itu soal biasa, bung. Mengapa kau takut?
 
Ada kalanya ia merasa bersalah dan mengutuk dirinya, mengapa harus kalimat itu? Mengapa tidak yang lain? Ia berumit-rumit dengan pikirannya sendiri. Memang dapat dimengerti, kekuasaan kali ini sangat sensitif. Pihak kepolisian memang telah minta maaf. Pasti mereka tak ingin ada kata-kata provokasi. Maka segala kekuasaan pasti dioperasikan untuk menyensor bahasa yang tepat dalam situasi saat ini.
 
Di sisi lain, ia senang mendengar murid-muridnya berhasil menebak perubahan-perubahan pada kalimat awal ke yang kedua dengan baik. Ia merasa murid-muridnya berkembang dalam pelajaran bahasa.
 
"Apa bedanya TERLINDAS dan DILINDAS, Pak Guru?"
 
Pertanyaan itu mengusiknya. Ia mengingatnya dengan baik, dan ingin menjawabnya dengan tuntas. Dengan terang benderang.
 
Tapi ia menutup kelas. Itulah yang dia ingat hari itu. Penutup yang mengecewakan, pikirnya. Ia mengganti dengan kalimat lain. Memang pelajaran bahasa berjalan seperti biasa. Tapi baginya, hari itu tak lagi sama. Jika ia tak menjelaskan kata TERLINDAS menjadi DILINDAS, ia merasa menyembunyikan pengetahuan penting.
 
*
...Kata TERLINDAS memberi kesan bahwa itu dilakukan secara tak sengaja, begitulah akhirnya ia mulai menuliskan pikiran itu.
 
Dengan pilihan kata TERLINDAS, kita dipaksa untuk membayangkan situasinya seperti ini: seorang ojol menyeberang jalan, terpeleset dan sopir mobil polisi gagal menginjak rem tepat waktu, hingga tak sengaja menabrak pemuda ojol itu.
 
Itulah yang terkandung pada kalimat pasif: SEORANG OJOL TERLINDAS MOBIL POLISI.

 
Ia diam sebentar. Ada yang menggelitik dalam pikirannya dan ia tersenyum getir: rupanya kata-kata begitu sangat politis. Tapi senyum itu segera redup: bagaimana jika tulisan ini dibaca umum? Aparat akan melihat ini sebagai tulisan provokatif, dan aku - seorang diri ini - akan ditangkap.
 
Ah, itu soal nanti. Dengan getir, ia tetap melanjutkan:
 
...Kalimat itu terlalu ragu. Sebagai gantinya, inilah kalimat pasif yang lebih tegas: SEORANG OJOL DILINDAS OLEH MOBIL POLISI.
 
Pada kalimat ini, kita diberi keleluasaan untuk melihat situasinya secara berbeda: seorang pemuda ojol menyeberang jalan, dan sudah berusaha menghindar dari mobil polisi. Tapi mobil itu melaju kencang seakan di jalanan yang lowong, padahal di kanan dan kiri, juga di depannya banyak kerumuman.
 
Alih-alih berhenti, mobil itu malah lanjut melindas ojol yang sudah terkapar.
 
Itulah situasi yang sebenarnya terjadi, dan kata DILINDAS lebih tepat, lebih terus terang untuk menggambarkan kesengajaan itu.

 
Sepertinya ia melupakan sesuatu, maka ia segera melanjutkan:
 
Dan jangan lupa, aku sisipkan kata OLEH, untuk mempertegas subjek pelaku... (yang harus bertanggung jawab, ucap pikiran lelaki itu) pada kalimat (kejadian) itu. Oleh mobil polisi. Itu berarti oleh mereka yang mengendarai mobil itu, boleh sopirnya saja atau semua orang terlibat di dalam mobil itu.
 
"Tabrak saja, tabrak saja," samar-samar ia seperti mendengar suara itu dari dalam barakuda itu.
 
*
Aku duduk di kursi paling belakang dan tak berkata apa-apa. Aku menyimak setiap detail penjelasannya. Tapi kemudian aku seperti tak peduli dengan pelajaran bahasa. Aku seperti ditarik pada dunia lain: kata-kata DILINDAS menggema kuat di dalam pikiranku, atau duniaku. Wajah kebengisan pengendara mobil itu melintas jelas di pikiranku.
 
Di sebelahku, seorang siswi yang dari tadi diam, mungkin mengacungkan tangan dan membuat semacam kesimpulan. Sayup-sayup rasanya aku mendengar dia berkata:
 
"Aku mengerti, Pak. Pertama, kalimat itu menegaskan bahwa peristiwa itu bukan kecelakaan tapi kesengajaan. Kedua, subjek dan objek dalam kalimat itu menjadi jelas...
 
Detik berikutnya, aku dibawa lebih dalam pada bayangan kesakitan sang ojol saat dilindas barakuda itu. Mobil berat itu melindas tubuhnya. Bayang-bayang kebengisan orang-orang di barakuda melintas-lintas. Tidak! Mereka bukan manusia. Tiba-tiba dari kepala mereka seperti muncul tanduk, dan gigi-gigi tajam bertaring. Mereka tersenyum. Tapi yang muncul adalah wajah-wajah menyeramkan dan belepotan darah di giginya. Tak salah lagi, mereka monster. Dan monster-monster itu tak peduli keluh kesakitan dari seseorang yang dilindasnya. Barakuda itu kembali melaju, melanjutkan lindasannya, melanjutkan kekejamannya untuk membunuh.
 
Tiba-tiba tanpa sadar aku telah berteriak, mengubah kalimat pasif menjadi aktif:
 
MOBIL POLISI MELINDAS SEORANG OJOL.


Post a Comment