Aku Tak Mau Mati

Table of Contents


 

Aku masih ingin hidup. Aku tak mau mati.

Ku tancap gas scoopy bekas yang baru ku beli. Tapi pengendera yang berboncengan di belakangku itu tak kunjung menjauh. Jarak kepadaku semakin dekat. Motor Aerox yang dikendarainya jauh lebih bertenaga, lebih tangguh, lebih cepat.

Aku masih ingin hidup. Aku tak mau mati.

Aku tak peduli lagi jarum di spedo meter motorku. Asal cepat, asal terhindar dari mereka. Itu saja yang ku pikirkan.

Rasanya jalan Pasar Minggu yang membentang di hadapanku begitu panjang. Benarkah ini jalan Pasar Minggu? Rasanya ini jalan tak ada ujungnya. Ah begitu gelapnya. Sampai-sampai rasanya lampu-lampu yang berjejer di tepi jalan hanyalah lampu pajangan. Lampu-lampu itu tak mampu mengusir kegelapan. 

Dan orang-orang, di manakah mereka? Ini sudah menjelang pagi, mengapa masih tampak sepi. 

Aku masih ingin hidup! Aku tak mau mati!

Tapi rasanya, kehidupanku akan berakhir di sini. Kematian begitu dekat. Dan kehidupan seperti makin menjauh. Beginikah rasanya diburu kematian?

Tiba-tiba melintas berbagai potongan momen yang baru aku jalani beberapa hari ini: tawa kawan-kawanku, denting gelas, piring, dan sendok di dapur, musik-musik yang terdengar dari ruang-ruang kantor.

Itu semua kehidupan, kah?

Melintas sepasang sosok tua, dan aku mengenal mereka. Garis-garis tua di wajahnya menyiratkan kerinduan: lekas pulang, nak! 

Beberapa sosok lain, tampak lebih muda, dengan tawa yang lebih segar dan seperti mengangkat gelas berisi minuman yang diacung-acungkan kepadaku seolah berkata: ayolah, kawan, bersenang-senanglah kawan! Dan seorang, yang ah, aku merindukannya setengah mati, kerinduan yang baru beberapa hari terobati kini seperti kambuh lagi, mengajaknya bertemu walau sekadar mengitari jalanan Ciputat-Pamulang, dan ia seperti protes dengan suara yang manis: kau tak pernah punya waktu untukku!

Potongan terakhir dari seorang atasan, dan ah andai saja potongan ini seperti layar TV, ingin aku sudahi saja, ia seperti bilang: kapan kerjaan ini kelar?

Apakah itu semua kehidupan? Ah, aku belum ingin mati. Hidup lebih baik! Hidup lebih baik!

Aku dengar motor-motor menderu; ku dengar jeritan dengan klakson-klakson dari motor Patwal, mobil pejabat dengan sirine omong kosongnya. Mengapa tiba-tiba dunia menjadi begitu bising? Apakah ini yang dirasakan setiap orang menjelang kematian, dunia semakin bising, dan kita bahkan nyaris tak bisa mendengar suara sendiri.

Motor yang dikendarai malaikat yang hendak mencabut nyawaku itu sudah ada di sisiku. Salah satu kaki dari mereka menerjang bagian kanan motorku. Aku kehilangan keseimbangan. Tapi pada detik-detik nyaris terjatuh, entah bagaimana sebuah keseimbangan kembali bisa kuraih. Mereka menendangku lagi. Aku nyaris jatuh, tapi aku berhasil kembali meraih keseimbangan. Berkali-kali. Apakah aku mempermainkan kematian atau aku yang sedang dipermainkan kematian?

Kematian akan datang dengan cara perlahan dan begitu menyengsarakan, menakutkan. Mereka seperti tertawa, menambah ketakutanku pada kematian.


*

"Kau mestinya istirahat dulu. Tidur saja. Besok pagi, baru balik lagi ke kantor."

Aku mendengar nasehat itu. Rasanya itu datang dari ruang dan waktu yang berbeda. Tapi nasehat itu terlalu muluk. Pesan itu seakan lupa atau tak tahu bahwa aku tak punya waktu untuk istirahat. 24 jam sudah kuabdikan hidupku untuk kerja. Kerja, kerja, kerja, kata seorang Presiden yang kurus.

“Bekerja itu 8 jam, bung", nasehat itu makin keras dan seakan marah.

Aku ingin tertawa, mencela nasehat itu. Andai saja suara itu menunjukkan wujudnya, ingin aku hadapi dengan satu bogem mentah di wajahnya.

“Ya tertawalah. Tertawalah untuk dirimu sendiri. Jika memang hidupmu diabdikan untuk kerja, jika kau tak mau mengistirahatkan tubuhmu, memang lebih baik kau mati saja.”

Kematian! Oh, kematian!

Rasanya ini bukan Jalan Pasar Minggu yang ku kenal. Jalan ini seperti dikepung kesunyian, dan kesunyian seperti jalan menuju kematian. Aku pasti hanya berjalan di satu titik, di situ-situ saja dan aku tak akan menemukan ujung jalan ini. Karena aku ditakdirkan berjalan menuju kematian.


*

Ahhhh...!!

Benda apa lagi yang mendera punggungku. Rasanya lebih sakit dari yang tadi. Benda itu berkali-kali menerkamku dari belakangku. Rasanya aku seperti ditimpuk batu. Kadang serasa besi. Kadang pula serasa golok. Ah, apakah aku berdarah.

Kadang ketakutan dan kemarahan bercampur aduk. Rasanya aku ingin turun saja, dan menghadapinya. Tapi aku sudah lupa seluruh jurus yang pernah ku jalani. Lagi pula mereka berdua. Kulirik dari spion memastikan: ya mereka berdua. Mereka bertubuh besar, dan membawa senjata. Sedangkan aku hanya membawa sebuah ransel berisi tab, alat untuk berperang di kantor. Uhhh, tak mungkin aku menghadapinya.

Lagi-lagi kurasakan punggungku dilempari batu. Kadang juga bagian leherku di sisi kanan. Oh, kematian. Kini ketakutan menyergapku lagi. Tapi tiba-tiba aku seperti menemukan kepasrahan.

“Baik, baiklah jika aku memang ditakdirkan untuk mati hari ini, di pinggir jalan sepi terkutuk ini, baik-baiklah, sini kematian. Aku akan melemparkan diriku ke pelukanmu. Tulislah kematianku di sini, di jalan terkutuk ini."

Tapi tubuhku menolak limbung. Ini sudah kesekian kali mereka menendang motorku, melempariku dengan batu. Tubuhku selalu menemukan keseimbangan untuk terus berlari-lari.

Tubuhku sepertinya mendengar suara halus terdalamku: aku masih ingin hidup. Aku tak mau mati.

Melintas lagi wajah seseorang. Begitu manis. Manis sekali. Apakah ia bidadari. Rasanya aku mengenal senyumnya. Aku merasakan bau parfumnya. Di mana? Pasti di ruang dan waktu yang berbeda. Aku ingin hidup. Aku tak mau mati.

“Sayang, kau pernah menghiburku dengan puisi Chairil Anwar bukan…”

Lalu kita berdua mengucapkannya berbarengan: aku ingin hidup seribu tahun lagi.

Aku tak mau mati di sini.


*

Scoopyku, motor bekas tapi masih cantik yang kubeli dengan penuh perjuangan ini, masih melaju. Ia menolak untuk menyerah. Suara mesinnya menjerit-jerit tapi sekaligus seakan ikhlas.

“Brengsek! Berhenti goblok! Serahkan motormu.”

Mereka menginginkan motorku atau kematianku? Ah setan betul mereka. Beraninya mengambil hak orang lemah. Kau tahu, aku menabung berbulan-bulan, memotong uang jajan, kadang aku puasa, supaya aku bisa membeli motor ini?

“Motor atau kematianmu goblok!”

Pertanyaan macam apa itu? Ah, tidak untuk dua-duanya. Kalian tak boleh merenggut hidup atau motorku. Ini hakku.

Sebuah pukulan mendarat lagi di punggungku. Aku mungkin menjerit. Dan terbayang wajah manis itu menitikkan air mata. Ia memelukku. Di mana?

Motorku kini makin kehilangan keseimbangan. Tendangan di sisi kanan motor. Pukulan di punggungku, tapi tubuhku tak mau goyah. Atau rasanya aku tak mau menyerah.

Lalu keseimbangan motorku benar-benar telah hilang. Aku terlempar dari motorku. Ada jarak antara aku dan motorku. Dalam keadaan tertatih, aku masih berdiri. Kini aku di ambang dua pilihan: menyelamatkan diri atau motorku. Pilihan itu dipisahkan oleh jarak: motorku terlalu dekat jangkauan mereka.

Akhirnya aku memilih menyelamatkan diri. Aku berlari. Berlari dan berlari. Perih dan kesakitan di punggung, kaki dan seluruh badan, masih bisa ku bawa lari.

Kini mereka lah yang di ambang keraguan: mengambil motorku atau memburu diriku. Rasanya mereka memilih yang pertama dan mengabaikan diriku. Aku telah berlari terlampau jauh. Dan aku terdampar di depan pintu kantor.

Hanya beberapa patah kata yang kuucapkan lewat hape:

“Cuks, buka gerbangnya!”


Gempolsari, 21 Oktober 2025


Post a Comment