Ansor University Peta Jalan Kemajuan GP Ansor

Table of Contents


 

Rontalin.com - Gerakan Pemuda Ansor atau GP Ansor terus melakukan inovasi dan transformasi organisasi dengan menyiapkan kader intelektual yang peka terhadap perubahan zaman secara simultan. Ini tidak lepas dari prinsip perjuangan GP Ansor yang berakar pada ajaran Ahlussunnah wal-Jama'ah (Aswaja) An-Nahdliyah, yang meliputi tiga pilar: kesesuaian gerakan (harakah), pola pikir (fikrah), dan amaliah (praktik).

Kendati demikian, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan, baik yang bersifat internal dan eksternal, demi mewujudkan cita-cita para pendiri.

Jejak Sejarah: Dari Syubbanul Wathan ke GP Ansor

Dulu tahun 1924, sebelum Muktamar ke-9 Nahdlatul Ulama (NU) digelar di Banyuwangi, Jawa Timur, seorang ulama masyhur menghimpun para pemuda Tanah Air untuk melawan penindasan. Mereka yang mayoritas santri merasa terpanggil bukan hanya perintah gurunya untuk bergerilya melawan penjajah, tapi juga didorong semangat nasionalisme yang menyala. Mereka rela mempertaruhkan nyawa untuk menjaga dan lepas dari penjajahan.

Dari sinilah organisasi kepemudaan ini lahir: dari semula bernama Syubbanul Wathan, Ansor Nahdlatul Ulama (ANO), Persatuan Pemuda Nahdlatul Ulama, hingga akhirnya dikukuhkan sebagai organisasi modern menjadi Gerakan Pemuda Ansor atau GP Ansor. Pada 24 April 1934, dalam Muktamar NU di Banyuwangi, GP Ansor ditetapkan sebagai badan otonom NU.

Sejak itu, Ansor istiqomah bergerak dalam merawat Indonesia. Dari masa ke masa, peran organisasi itu semakin maju, baik dalam konteks sosial, politik, toleransi dan lain sebagainya.

GP Ansor Sebagai Peta Jalan

Malcolm X, seorang tokoh dan aktivis Muslim Afro-Amerika, pernah berkata, “masa depan adalah milik mereka yang mempersiapkannya hari ini.” Kalimat ini kiranya bisa menjadi penggugah bagi semua kader GP Ansor bahwa meski organisasi pemuda ini telah banyak makan asam garam, tapi tetap harus terus konsisten berbenah dan melakukan lompatan besar. Dan di tengah tantangan zaman, terbukti GP Ansor menunjukkan komitmen itu.

Saat ini, misalnya, salah satu terobosan penting GP Ansor adalah lahirnya "Ansor University", sebuah ikhtiar strategis untuk membentuk kader intelektual, moderat, dan memiliki wawasan entrepreneur.

Kehadiran Ansor University dapat dibaca sebagai fase ‘tanam tuai’ atas semua perjalanan GP Ansor yang kini memasuki usia satu abad.

Bonus Demografi dan Surplus Intelektual

Lewat "Ansor University", GP Ansor menjadi penegas bahwa bonus demografi bukan hanya soal angka generasi muda, tetapi juga kualitasnya. Indonesia membutuhkan surplus intelektual yang mampu membaca arah zaman dan perjuangan Indonesia menuju abad kedua nanti. Dalam hal ini layak kita renungi ungkapan Ibnu Khaldun: "al-insanu madaniyyun bi al-thabi”, setiap manusia di dunia ini membutuhkan manusia lainnya. 

Untuk itu, GP Ansor dengan Ansor University harus diletakkan seperti posisi imam dan ma'mum dalam sholat. Yakni mencetak dan menguatkan sumber daya manusia (SDM) kader, mandiri secara ekonomi, serta berorientasi pada kerja kolektif, kreatif, inovatif, dan berkelanjutan, serta mengokohkan garis perjuangan dengan khidmat meneguhkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah yang menjadi nafas perjuangan NU.

Pelajaran dari Ibnu Khaldun: Siklus Peradaban

Dalam karya monumentalnya, Muqaddimah, Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa umur suatu dinasti atau peradaban umumnya tidak melampaui tiga generasi. Perubahan sifat dan kohesi sosial antargenerasi menjadi faktor penentunya.

Generasi pertama disebut memiliki ikatan sosial (asabiyyah) yang kuat, hidup dalam kondisi keras, berani, dan bertekad memperoleh kekuasaan. Generasi kedua mulai hidup menetap, menikmati kenyamanan, dan sedikit demi sedikit kehilangan kerasnya perjuangan serta asabiyyah generasi pendahulu. Sedangkan generasi ketiga mulai tenggelam dalam kemewahan, jauh dari akar perjuangan, dan akhirnya lemah sehingga mudah ditaklukkan oleh kelompok baru yang memiliki asabiyyah lebih kuat.

Siklus ini mesti jjadi pengingat bagi GP Ansor sehingga regenerasi tidak boleh hanya bersifat administratif, melainkan harus disertai penguatan karakter, intelektual, dan kohesi sosial. Kehadiran Ansor University dapat dibaca sebagai jawaban atas tantangan itu.

Penulis Kosim Rahman 

Anggota Ansor University Jawa Timur

Post a Comment