Guru Tolang di Sudut-sudut Sunyinya Kampung
Ilustrasi: di kiri bawah, dua orang adalah guru kampung atau guru tolang yang mengajariku pengajaran agama sebelum ke pesantren. Di sisi kanan adalah barisan guru di pesantren.
Rontalin.com - 25 November 2025, orang-orang merayakan hari guru. Story-story media sosial bernama WhatsApp seperti biasa - sebagaimana hari-hari nasional lainnya, kebiasaan warga di era medsos hari ini - dibanjiri foto-foto para guru dengan segala ucapan terima kasih yang dihaturkan.
Tapi dari story WA seorang senior, aku mendapati ada dua orang guru kampung: Mereka K. Ahmad dan K. Abd. Gani. Bagiku, memposting mereka di story, rasanya seperti 'wow', lantaran guru-guru yang seperti mereka, guru-guru yang mengajar dari kampung-kampung sunyi, guru yang mendedikasikan diri dalam keikhlasan, bahkan jauh dari sorot pemerintah (entahlah saat ini), biasanya jarang diekspose. Guru-guru seperti mereka tumbuh secara organik di tengah-tengah masyarakat, dan jadi lentera bagi pendidikan dasar agama bagi masyarakat sekitar.
Mungkin tiap daerah, dengan kekhasan kampung masing-masing, pengalaman dan sebutan bagi mereka itu berbeda. Itu sebabnya, aku akan berbagi berdasarkan pengalamanku sendiri tentang mereka.
*
Di kampungku, kami, warga, biasanya menyebut guru kampung ini sebagai 'Guru Tolang'. Aku tidak tahu persis apa artinya. Tapi dari rekaan-rekaanku, tolang itu mungkin merujuk pada tulang dalam arti biologis. Bagaimana arti simboliknya?
Mungkin dengan saya menjelaskan kiprah mereka, kita bisa menerka kaitan makna simbolik dari 'Guru Tolang' itu.
Guru Tolang, dalam pengalamanku, adalah guru pertama setelah orang tua. Mereka mengajar pendidikan dasar agama, lantaran memang latar belakang mereka adalah santri, orang-orang terdidik di pesantren yang kemudian mengabdi di masyarakat.
Di kampungku yang sunyi, mereka mengajarku tentang fiqih dasar, tata cara ibadah wajib, tentang berwudhu, dan dasar-dasar praktik peribadahan lainnya. Rujukan mereka adalah kitab-kitab klasik yang mereka peroleh dari pesantren. Kadang ia melanjutkan cara baca ala pesantren, sorogan. Tapi mengingat kami adalah anak-anak, maka cara mereka menyuguhkan pengetahuan itu dikemas secara menarik, diulang-ulang, dengan ilustrasi cerita sehari-hari yang bisa kami mudah kenali, dan kadang-kadang dalam kemasan 'nyanyian'.
Hasilnya memang efektif. Meski kadang-kadang aku butuh waktu untuk bisa betulan paham dalam teori dan praktik, tapi ajaran itu menggema di kepala, tersimpan rapi dan kadang-kadang hingga saat ini, aku masih bisa mengingatnya.
Apa yang mereka lakukan layak aku puji sebagai sesuatu yang jenius. Mereka telah mempraktikkan pengajaran dengan metode tertentu supaya apa yang mereka tuangkan ke otak kami, dapat kami cerap dengan baik, perlahan tapi bertahan, bisa terbawa hingga kini. Metode tertentu yang mereka praktikkan hanya bisa berhasil jika mereka dapat memahami diri kami yang anak-anak. Itu berarti mereka juga sedikit banyak telah mempelajari dengan baik bagaimana cara kami, anak-anak kampung yang belum sekolah atau baru masuk SD, bisa menyerap pelajaran dari mereka.
*
Sudah saya singgung di atas, guru-guru kampung atau guru tolang ini tak datang dari kampus-kampus besar nan megah. Mereka berasal dari pesantren-pesantren, pulang ke kampungnya masing-masing dan membuka pengajaran agama.
Dalam pengalamanku masa kecil, mereka membuka pengajaran agama di masjid atau musholla, dari jam sehabis sholat Maghrib hingga Isya.
Apa yang mendorong mereka, salah satunya adalah ketulusan untuk membagi ilmunya. Barangkali mereka mempraktikkan apa yang disebut 'Ilmu Bermanfaat'. Saya memahami Ilmu yang Bermanfaat terbagi dua.
Pertama, ilmu yang dipraktikkan, yang diamalkan, oleh pemiliknya. Kedua, ilmu yang dibagikan kepada orang lain, tidak sekadar disimpan sebagai pajangan di kepala.
Dalam konteks yang kedua, ada ungkapan dalam bahasa Arab, yang lamat-lamat masih kuingat: Al-'ilmu bila 'amalin kasyajari bila tsamarin. Ilmu yang tak diamalkan, bak pohon tanpa buah. Berapa pun pengetahuan yang mereka miliki, tanpa dibagikan kepada orang lain, maka itu hanya akan sia-sia.
*
Warga kampung, seperti kami, sangat merasa berterima kasih kepada kehadiran mereka, para guru tolang ini. Sebab tidak semua orang punya pemahaman agama yang mendalam. Juga tidak semua orang punya waktu untuk mengajarkan ilmu agama ke anak-anaknya di kampung. Itu sebabnya, guru tolang ini jadi sekolah pertama yang mendukung pendidikan anak-anak di kampung.
Adakah timbal balik yang diterima guru kampung? Misal dari pemerintah. Lantaran sejak awal, mereka mendedikasikan hidup dalam jalan sunyi mengajar, maka guru kampung seringkali tak tersorot oleh pemerintah, 'dilupakan' atau 'terlupakan'.
Padahal mereka, sebagaimana masyarakat kampung lainnya, hidup dari bertani. Mereka membagi waktu: untuk keluarga dan anak-anak didiknya. Mereka bekerja sebagai petani di siang hari, mencari kebahagiaan dunia; lalu di malam hari mengajarkan agama, mencari ridho Tuhan dan kebahagiaan ukhrowi.
Namun, masyarakat kampung punya cara sendiri untuk tak sepenuhnya menyerahkan anak-anaknya dalam asuhan pendidikan mereka secara gratis. Dalam pengalaman masa kecilku, tiap tahun warga menyalurkan zakat fitrah kepada mereka selain juga kepada fakir miskin yang layak menerima.
*
Bagaimana guru kampung hari ini? Apakah mereka masih ada dan setia menjalani pengabdian mengajar dalam kesunyian yang jauh dari sorot pemerintah?
Aku berharap mereka masih ada sebab di kampung, meski pendidikan dini mulai bermunculan, kehadiran mereka tetap dibutuhkan. Masjid atau musholla harus terus ramai oleh mereka dan anak-anak yang melantukan ajaran agama, melantunkan hafalan-hafalan, dan menghidupkan masjid dari waktu ke waktu.
Dan sudah seharusnya keberadaan mereka mulai diperhatikan. Jangan mereka dilupakan. Selamat hari guru.

Post a Comment