Konflik Internal PBNU: Momentum Perubahan atau Patahan?
Rontalin.com - Konflik internal di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) belakangan ini memicu banyak spekulasi dan kekhawatiran di kalangan masyarakat. Terutama desakan mundur yang dialamatkan ke Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, oleh Syuriyah PBNU.
Sejatinya konflik internal NU bukan hal baru. Sepanjang perjalanannya, dinamika semacam ini biasa terjadi dan NU selalu berhasil melewatinya. Sebab itu, konflik terbaru ini pun diharapkan menemukan titik temu solutif, jadi momentum perubahan, bukan memicu patahan.
Lihat pada peringatan satu abad NU di Sidoarjo. Kita menyaksikan sesuatu hal yang menakjubkan: jutaan Nahdliyin berkumpul dan menunjukkan soliditas dan solidaritas, kesatuan dan kekuatan organisasi ini. Itu dapat dibaca sebagai momentum penting yang harusnya jadi pendorong bagi seluruh kalangan NU terutama tokoh NU untuk mengedepankan kepentingan Nahdliyin, memperkuat NU dan membuatnya semakin maju dan berkembang.
Memikirkan Umat atau Kepentingan Segelintir?
Konflik itu menyehatkan. Lantaran itu bisa membuat organisasi berbenah. Ada gerak, gairah untuk berubah ke arah yang lebih baik dan maju. Tapi di sisi lain, jika konflik tak disikapi dengan baik, hal ini bisa memicu retakan demi retakan dan akhirnya bisa berujung pada perpecahan.
Maka menyikapi konflik di tubuh NU hari ini, pertama-tama, perlunya kesadaran pengurus NU untuk duduk bersama dan membicarakan 'duduk perkara' dengan kepala dingin. Kritik kepada Ketua Umum PBNU mesti dibaca secara objektif, ditelaah soalnya. Syukur-syukur kritik itu bisa diterima dan justru memicu jalan bagi NU untuk lebih baik.
Apa yang penting di sini adalah kesadaran para elit NU? Kesadaran para elit untuk menguatkan kesatuan NU mestinya bukan hal yang susah jika mereka mengedepankan apa yang menjadi kepentingan kesatuan. Lihat mereka para Nahdliyin di akar rumput, di seluruh daerah. Lihat dan dengarkan apa yang mereka inginkan. Jawabannya pasti kesatuan.
Kedua, kritik atau desakan mundur itu tak begitu saja muncul. Kita mesti berkhusnuddzon bahwa para kiai sepuh yang mengirimkan kritik, itu bentuk kecintaan mereka kepada NU secara umum. Mereka menginginkan perbaikan. Apalagi kita tahu selama ini memang gerak NU di bawah kepemimpinan Yahya memang banyak disorot. Maka kritik mesti dibaca sebagai upaya pembenahan.
Dengan begitu, PBNU tidak boleh menutup diri pada kritik. Kalau perlu kritik itu diterima secara terbuka dan dijadikan dialog terbuka. Banyak kader-kader muda NU yang punya ide-ide cemerlang. Jadikan ini momentum bagi NU untuk berbenah, menemukan arah, memperkuat marwah, dan memperkuat fungsinya sebagai rumah bersama bagi seluruh Nahdliyin.
Apakah Ketum Harus Mundur?
Saya tak punya alasan yang kuat untuk mengomentari harus mundur atau tidaknya ketum. Tapi menurutku, apapun soal yang kiranya memicu protes itu, mestinya jadi urusan internal PBNU. Bincangkan dengan baik.
Apa yang kami harapkan sebagai warga Nahdliyin secara umum adalah apapun yang terjadi di tingkat elit, mestinya tidak mengorbankan kepentingan soliditas ummat.
Konflik jadi momentum perubahan atau awal retakan, semua itu ada di kalangan para petinggi di NU. Kelegowoan masing-masing dalam soal konflik di atas adalah anugerah bagi kami, warga Nahdliyin.
Sampai saat ini saya masih optimis bahwa para elit NU akan membawa NU lebih baik, mau menjalankan islah atau tabayyun dalam rangka menyelesaikan persoalan internalnya.

Post a Comment