Morgans dan Jurnalisme Cuan

Table of Contents



Media Morgans meng-hero-kan Monkey D. Garp dalam peristiwa God Valley. Tapi jangan-jangan itu hanyalah selubung untuk mengangkat dan melanggengkan kekuasaan pemerintahan dunia?

Rontalin.com - Insiden God Valley membuka watak jahat jurnalisme yang tak setia pada fakta. Morgans, juru warta terdepan atas peristiwa yang akhirnya dihapus dari sejarah itu, mempraktikkan watak jahat itu: memilah-milah fakta untuk diberitakan dan disembunyikan, disertai bumbu-bumbu mana yang layak di-hero-kan.

Semua kerja itu jelas menyimpang dari semangat menghadirkan berita yang jujur. Sebab di tangan kerja pewartaan Morgans, peristiwa sudah dipelintir, disunat di sana-sini. Kebenaran versi Morgan sudah diotak-atik menurut kehendak pihak tertentu. Jurnalisme Morgan digadaikan pada uang. Sehingga produk jurnalistik yang ia hasilkan bukan untuk menghadirkan kebenaran, menerangi peristiwa. Bukan demi kepentingan publik yang menginginkan kebenaran. Tapi demi kepentingan pihak tertentu.

Tentu saja soal ini hanya diketahui pihak tertentu karena bagaimana kepentingan itu bekerja di tempat yang tertutup. Hanya segelintir kalangan elit pemerintah dan angkatan laut yang tahu. Setidaknya itu terkonfirmasi dalam dialog antara Sengoku dengan Garp. Saat itu, Garp begitu marah, dan hendak memberikan 'pelajaran' pada Morgans. Penyebabnya, media Morgans sengaja mengabaikan banyak fakta penting dalam peristiwa God Valley dan malah fokus membuat headline tentang 'heroisme' Monkey D. Garp dalam peristiwa itu.

Garp, kakek Luffy barangkali merasa bahwa ia tak layak dijadikan sebagai sosok pahlawan dalam peristiwa itu. Sebab itu mencederai fakta yang sesungguhnya. Lagi pula, jika ia dipahlawankan dan sementara kematian Rocks seakan dirayakan, di sini mengandung konsekuensi yang sangat politis.

Pertama, versi pemberitaan itu menyiratkan upaya demonisasi (penyetanan) pada Rocks. Rocks diletakkan dalam posisi sebagai bajak laut iblis, hitam, dan berbahaya. Kematiannya layak dirayakan. Padahal fakta sesungguhnya, Rocks datang ke God Valley ntuk menyelamatkan istri dan anaknya. Rocks yang akhirnya membantai adalah Rocks versi lain yang dikendalikan Imu. Pasti ini luput dari catatan Morgan, karena ia tak mau mewawancarai Harald (raja Elbaf) saksi sebelum peristiwa dan Garp, Roger dan krunya sebagai saksi saat kejadian itu.

Mendemonisasi Rocks membawa dampak jauh. Bajak-bajak laut yang hadir di situ akhirnya juga tak luput dari demonisasi itu. Roger misalnya. Akhirnya, mereka (para bajak laut) lah yang dipandang sebagai pemicu peristiwa di God Valley; mereka (para bajak laut) -lah yang akhirnya makin dipojokkan. Di sini, Morgans sebagai media propaganda pemerintah berhasil melanggengkan stigma bahwa bajak laut itu sekumpulan orang jahat di dunia One Piece.

Saya tambahkan: Morgans bukan hanya berhasil melanggengkan bajak laut sebagai pihak bersalah atas peristiwa itu, tapi sekaligus juga menutup dan menyembunyikan kebejatan para Tenryubito. Seakan-akan, tak ada andil Tenryubito dalam peristiwa itu. Kematian-kematian warga lokal di sana seluruhnya ditujukan kepada Rocks dan para bajak laut lainnya bukan akibat permainan 'bantai-membantai' manusia yang dilakukan oleh Tenryubito. Sebab itu, sekali lagi saya katakan: framing pewartaan dari Morgans jahat sekali.

Morgans juga mengabaikan fakta lain yang terang benderang sebab banyak saksi mata di sana: bagaimana Imu sang penguasa yang tampil seperti monster, lalu meminjam tubuh Saturn, salah satu Gorosei, untuk membuat kerusakan di sana sebelum akhirnya ia mengendalikan Rocks untuk melanjutkan pembantaian.

Saksi mata juga melihat bahwa Imu atau monster berwujud Saturn itu akhirnya bergabung dengan kapal bajak laut. Roger dan Garp melihat itu dan membicarakannya dengan sinis bagaimana Marines masih bicara keadilan, sementara pada saat bersamaa mereka bergabung dengan monster pembantai. Lagi-lagi Morgans tak mau menyelidiki fakta tersebut untuk diungkap dalam medianya.

Jadi, Morgans telah melewatkan banyak peristiwa penting.

Kedua, begitu Rocks diletakkan sebagai pihak yang bersalah, maka jurnalisme Morgans butuh sosok untuk dihadirkan sebagai pahlawan. Di sini akhirnya muncul nama Garp, kakek Luffy. Padahal Garp tak sendiri menumbangkan Rocks, melainkan bersama Roger. Dan musuh bersama sebenarnya bukan Rocks tapi Imu-sama dalam tubuh Saturn itu. Morgans pasti tak mau membicarakan itu.

Selain itu, peng-hero-an Morgans atas Garp pasti menyiratkan agenda politik yang lebih besar dari sekadar menonjolkan nama Garp. Dalam bacaan saya, nama Garp hanya dipinjam untuk agenda politik lebih besar untuk menonjolkan angkatan laut sebagai pahlawan dalam peristiwa itu. Mempahlawankan angkatan laut tak bisa dibaca terpisah dengan pemerintahan dunia secara umum. Sebab angkatan laut sebagai alat hanya bertindak atas instruksi pemerintahan dunia. Dengan kata lain, akhirnya 'heroisme' Garp hanya selubung untuk mengangkat nama angkatan laut dan ujungnya untuk mengangkat dan menguatkan posisi pemerintahan dunia sebagai organisasi besar pelindung rakyat.

Alhasil, pemberitaan versi Morgans berhasil bukan hanya menjaga citra baik pemerintahan dunia, tapi menguatkannya sebagai satu-satunya organisasi besar yang membawa misi menegakkan keadilan dan sekaligus menegakkan 'bajak laut' sebagai jahat.

Pemberitaan Morgans ini mungkin jadi bahan lelucon di kalangan bajak laut yang ikut menyaksikan peristiwa itu. Tapi dalam konteks politik luas, dalam relasi pemerintahan dunia dengan negara-negara yang berada di bawah payungnya, juga relasinya dengan publik umum, pemolesan citra baik yang dilakukan Morgans ini sangat dibutuhkan untuk menjustifikasi keberadaan kekuasaan pemerintahan dunia. Dalam peristiwa ini, media Morgans bertindak tak ubahnya 'humas' bagi pemerintahan dunia: ia hanya melaporkan yang baik-baik bagi pemerintahan dunia dan menyalahkan pihak lain yang berseberangan dengan pemerintah dunia alias bakal laut.

Seorang teman berkomentar: dalam setiap peristiwa besar yang ditutup-tutupi secara rapat, pasti ada pihak yang dikambinghitamkan. Dalam peristiwa God Valley, informasi satu arah, barang bukti lenyap (dilenyapkan) dan pemberitaan hoaks yang menyebar akhirnya dipercaya. Alhasil, sejarah layaknya benang kusut.

Kembali ke Morgans, siapa yang membayarnya untuk membuat framing jahat? Pemerintah dunia, itu kata Sengoku saat berbincang dengan Garp.

Dengan demikian, jurnalisme Morgan adalah jurnalisme cuan. Ia menggadaikan idealisme pemberitaan demi uang.

Post a Comment