Surat Terbuka kepada Kades Dempo Barat

Table of Contents


 

Nama saya, Sufriadi, Pak. Salah satu warga Bapak yang lahir dan tumbuh besar di Kampung Potreh. Saya menulis surat ini dengan penuh harap supaya sampai di hadapan Bapak dan dibaca. Syukur-syukur segala argumen, kritik, dan permintaan di surat ini bisa dipahami dan diindahkan.

Pak, jika Anda mau sedikit melihat beberapa postingan di status WA masyarakat Dempo Barat—utamanya Kampung Potreh—atau semisal Anda mengecek grup-grup WA yang berkaitan dengan Dempo Barat, maka Anda akan melihat beberapa video yang menunjukkan anak-anak SD yang hendak berangkat sekolah, namun harus terkendala oleh aliran sungai yang deras dan tinggi akibat curah hujan yang kian kerap.

Di video itu terpampang para bocah, yang dengan seragam lengkap dan sepatu, mesti dibopong oleh beberapa orang dewasa supaya mampu menyeberangi sungai.

Bapak adalah jenis manusia yang sangat sibuk. Saya bisa paham itu. Tapi rasanya kok saya tidak percaya, ya, bahwa masih ada manusia di hari ini yang dalam sehari semalam tidak mengecek HP.

Saya haqqul yaqin bahwa Anda pasti tahu video itu. Jadi saya tidak lagi bertanya dan fokus soal sudah atau belum tahu, tapi bagaimana respons Anda setelah menonton video itu? Merasa bangga karena memiliki bibit generasi yang tak surut semangatnya meski pasang air sungai? Merasa haru karena solidaritas warga Anda sangat kuat, sehingga saat tanggung jawab Anda tak tuntas pun, mereka tetap berjuang sendirian?

Anak-anak SD polos itu mungkin belum mengerti saat ini. Tapi kelak mereka akan mengingat betapa susah mereka untuk sekadar sekolah. Dan mereka juga akan mengerti bahwa dalam kesusahan akses jalan menuju sekolah itu, ada andil Anda karena tidak becus dalam menggunakan kekuasaan.

Jembatan adalah salah satu infrastruktur yang masuk ke dalam tanggung jawab pemerintah regional. Ada anggaran yang dikucurkan oleh pusat ke daerah supaya dana tersebut diatur dan dialokasikan secara sempurna oleh daerah, dengan keyakinan bahwa pemerintah daerah lebih memahami problem daerahnya daripada birokrat yang ada di Senayan.

Beberapa di antara kami juga sangat memahami bahwa kucuran dana itu tidak sedikit. Tapi kami tidak pernah menuntut detail soal alokasi tersebut. Kami masih bisa hidup, walau dengan tertatih-tatih, dengan jagung atau tembakau atau merantau ke mana pun yang kami anggap bisa memberikan keamanan finansial bagi keluarga.

Selama ini, seingat saya, kami tidak sampai di tahap untuk menuntut transparansi anggaran. Kami hanya ingin jalan-jalan dan jembatan di kampung kami diperbaiki. Lagipula, bukankah hal wajar jika kampung kami, sebagai basis pendukung Anda yang cukup besar ketika ada momentum politik, meminta jalan dan jembatan diperbaiki supaya anak-anak dan adik-adik kami bisa lancar sekolah?

Jika Anda tidak amnesia, maka Anda pasti ingat bahwa beberapa kali kami (para pemuda Dempo Barat, khususnya dari Kampung Potreh) telah melakukan upaya berupa audiensi dengan Anda terkait infrastruktur elementer seperti jalan, jembatan, dan beberapa fasilitas lain yang memang dibutuhkan oleh kampung kami.

Akses kami ke jalan utama tidak seperti di rumah Anda yang tinggal nyelonong keluar langsung ketemu jalan licin. Kami tidak, Pak. Kami harus menuruni jalan curam dan menanjaki bukit terjal untuk sampai di jalan utama. Terlebih dengan ketiadaan jembatan yang sudah tak terhitung lamanya absen ini, kami terpaksa mengambil jalan memutar (yang pasti lebih jauh dari biasanya) sebab opsi menyeberangi sungai sudah tidak tersedia.

Kami tahu bahwa orientasi politik Anda memang licin. Anda paham medan sehingga alih-alih mengurus perihal jalan dan jembatan, aspek hiburan dan kebudayaan justru yang lebih mendapat fokus. Sapi sonok, lah. Hadir di keluarga yang tengah berbela sungkawa, lah. Kegiatan keagamaan, lah. Amboi! Taktik yang lihai dalam memikat hati masyarakat. Tapi sayangnya, itu tidak mendasar, Pak. Mobilitas kami masih tersendat. Penetrasi politik Anda tidak mengentaskan persoalan apa pun dalam kehidupan kami. Ini akhirnya berdampak pada aspek ekonomi, sosial, dan (utamanya) pendidikan kami.

Argumen dan kritik dalam surat terbuka ini mohon tidak disalahartikan sebagai upaya menjelek-jelekkan. Saya tidak menulis surat ini karena memiliki orientasi politik berbeda atau problem personal dengan Pak Kades. Jika butuh disclaimer, seluruh keluarga saya bahkan turut mendukung Bapak untuk memimpin desa kami entah untuk yang ke berapa kalinya. Jadi tolong untuk tidak selalu menempatkan kritik seperti ini sebagai upaya mendegradasi karisma politik Anda.

Berhenti bersikap pandir dengan menganggap bahwa yang memberi kritik adalah para pembenci dan karenanya harus dibuang ke keranjang sampah. Dalam demokrasi, justru pendukunglah yang dituntut untuk mampu mengawal pilihannya supaya sesuai dengan garis-garis prinsip demokrasi.

Saya ingin mengatakan bahwa justru kewajiban bagi siapa pun yang merasa mendukung Kades periode saat ini adalah turut menyuarakan kritik dan argumennya supaya turut membantu jalannya pemerintahan agar tetap on the track.

Mendukung dan mengawal adalah dua mata koin yang tidak bisa dipisahkan. Jadi jangan hanya tahu mendukung, ambil duit-duit pelicin, tapi tak mau tahu dengan tanggung jawab untuk turut mengawal proses pemerintahan setelahnya. Itulah yang saya sebut pandir. Melalui surat ini, saya telah melaksanakan tanggung jawab saya untuk tidak diam ketika ada kesalahan atau ketidakadilan di sekitar kita.

Post a Comment