Bijak Sikapi Video Viral Potreh
Rontalin.com - Dari yang saya baca kayaknya bermula dari video siswa yang menyeberangi arus sungai.
Sebelumnya saya mohon dimaklumi jika apa yang saya tanggapi kurang pas dengan apa yang dimaksud oleh yang memposting video.
Pertama, saya mulai dari soal video. Jika mau posting lagi, mohon agar diperjelas tentang gagasan utama, kata kunci, dan juga kalimat pendukungnya agar paragrafnya menjadi padu. Sehingga tidak mengakibatkan multi tafsir dari publik pembaca. Apalagi ini menyangkut isu yang sangat sensitif.
Di sini, saya tekankan lagi bahwa memposting video dengan tidak jelas gagasan utamanya, tidak disertai kata kunci, dan tanpa kalimat pendukungnya yang jelas, maka hal itu hanya akan menghasilkan informasi yang simpang siur. Sehingga pembaca merasa perlu menafsirkan menurut apa yang mereka tangkap daripada visualisasi tersebut.
Dengan kata lain, video postingan tersebut pasti melahirkan miskomunikasi. Jika terjadi hal demikian maka memang perlu kedewasaan dari kita semua untuk berpikir bahwa perbedaan pendapat atau asumsi itu wajar.
Memahami dan Menghargai
Kedua, saya ingin katakan bahwa Pak kades (Kepala Desa) adalah orang tua bagi kita bersama; sedangkan Desa itu ibarat rumah kita bersama. Jadi setiap persoalan baik dari segi kebijakan atau hal yang menyangkut pribadi pak kades, pertama-tama kita perlu mengedepankan laku memahami dan menghargai.
Mengapa kita harus mengedepankan kedua sikap itu terutama dalam konteks spesifik soal jembatan di Potreh itu?
Memahami berarti kita mencoba melihat duduk perkaranya, memeriksa dengan baik, dan tidak buru-buru mengambil kesimpulan. Menghargai itu soal berikutnya saat kita tahu soalnya.
Dari sini saya akan coba jelaskan.
Perkara jembatan atau yang lain, jika proses usulan pembangunannya dilakukan melalui pemerintah (dalam hal ini struktur desa), maka itu sifatnya pengajuan. Nah saya garisbawahi di sini apa yang disebut pengajuan, itu bisa diterima, bisa dipending (dulu), dan juga bisa ditolak. Dan butuh waktu dalam prosesnya, tak bisa buru-bur
Jika kita tak sabar dengan proses struktural di atas, atau tak mau tahapan usulan struktural, maka kita bisa ambil alternatif lain, yakni membangun komunikasi yang baik dan benar dengan donatur. Langkah ini jauh lebih solutif daripada kita hanya membangun rasa sentimentil.
Nah sekarang saya ingin sedikit cerita perkara jembatan ini.
Dulu, ada tiga donatur yang siap menyumbang semen untuk jembatan. Dua donatur pertama masing-masing sanggup menyumbang 100 sak. Mereka berbicara langsung ke teman saya. Sedangkan donatur ketiga, dia bicara langsung pada saya: ia sanggup 200 sak. Jadi jika ditotal ada 400 sak.
Tetapi kemudian tidak ada komunikasi lanjutan atau follow up dari teman-teman. Alhasil, orang yang menyanggupi itu ke saya, akhirnya menjadi vakum. Batal.
Duduk Bersama
Langkah terbaik untuk keluar dari kerumitan masalah ini adalah dengan duduk bareng alias ngopi bersama dengan Pak Kades. Dalam hal ini, mesti diperjelas tema dan tujuannya supaya pembicaraan menjadi spesifik dan terarah.
Jangan sampai komunikasi kita ke sana hanya sebagai pelarian dari keterbatasan berfikir kita.
Sebagai penutup, saya tutup dengan kalimat ini:
"Tidak akan berubah nasib suatu kaum jika mereka tidak mau berubah dengan sendirinya."

Post a Comment