Di Kota yang Sunyi, Siapa Pemilik Kemesraan Ini?

Table of Contents


Rontalin.com - Pertanyaan itu tiba-tiba menggantung di kepalaku saban hari. Malam ini, entah kenapa, pertanyaan itu datang lagi bersama perasaan gelisah yang sama, datang seperti setan yang menggoda iman kesetiaanku yang tebal ini.

Kata orang, cintamu akan terpupuk dengan baik selagi kau punya banyak waktu luang untuk selalu bersama. Waktu menebalkan perasaan itu, kata orang itu sambil menyuguhkan puisi padaku. Tapi persis saat ia banyak bicara soal cinta, aku kian gelisah dan akhirnya aku memutuskan tak percaya dengan teori yang entah dari mana ia mengutipnya.

Malam ini, aku berdua denganmu. Kemarin malam aku berdua denganmu. Dua hari lalu, aku berdua denganmu. Jika ada sosok yang ketiga, itu pasti setan. Begitulah kata ustadz di kampungku dulu. Setan seperti apa?

Aku membuka kulkas, mengambil dua botol air mineral. Satu untukku, satu lagi untukmu. Aku sudah membiasakan diri dengan air mineral. Itu untuk kesehatan, katamu. Kau tak perlu berdebat lagi denganku, sekarang aku akan ikut apa katamu. Kau tahu kenapa? Bukan karena aku peduli pada saranmu, tapi demi membuktikan aku siap denganmu selamanya.

Aku menenggaknya. Kau pun menenggaknya. Kita seperti hidup di kota yang dikepung kemarau panjang, kita terlalu sering dahaga. Malam-malam begini, udara seperti membawa obor yang hendak membakar tubuh kita. Kau pasti tak tahan dengan baju tebal bukan? Lantaran itu, kau memilih bahan yang tipis. Pemandangan yang indah tersaji di mataku.

Aku melangkah ke jendela. Ku buka lebar-lebar. Mataku terhenti pada kota di malam hari. Dari lantai 5 apartemen ini, kota seperti kabut hitam yang ditaburi sorot cahaya-cahaya kecil dari lampu yang hidup di setiap titik. Ada cahaya yang bergerak mengikuti lalu lalang kendaraan. 

"Kota ini begitu indah..."

Kau menanggapi dengan tawa. Aku tak mengerti apa yang lucu. Aku bercerita banyak hal tentang kota ini, bahwa kota ini dulu adalah perkampungan biasa. Uang datang dan orang-orang kampung terpinggirkan. Kau pasti mendengar ceritaku, kan? Tapi kau tertawa lagi.

Aku pikir aku menemukan sesuatu yang lain pada dirimu. Tawa itu seperti tawa pada yang lain. Tapi aku biarkan saja. Kembali ku tatap malam. Aku diam, kau diam, dan yang samar-samar ku dengar kini tak lain adalah ketukan jarimu pada huruf-huruf di papan digital gawaimu. Kau pasti lupa tak mengubahnya ke mode 'silent' kan? Maka aku menemukan sesuatu pada apa yang tadi aku maksudkan sebagai sesuatu yang lain.

Tawa. Ketukan pada huruf di papan digital gawai. Tawa. Ketukan itu lagi. Dan lagi, kau seperti tak mendengarku. Sudah tak lagi menarik perhatianmu ya, saat aku bicara kota yang sunyi ini. Padahal dulu kau tergila-gila pada kota ini. Sekarang kau sepertinya tergila-gila pada selain kota ini. Apa itu?

"Hai", kataku. 

Kau kaget saat aku sudah berdiri persis di depanmu. Gerak spontan dan buru-buru menutup layar gawaimu, ada apa? Kau menyembunyikan sesuatu?

"Kau tau, di luar sana ada orang yang tertawa-tawa, dibuai bahagia, persis seperti perasaanmu malam ini."

Aku tatap matamu. Kau juga berhenti sebentar tertarik ke dalam tatapanku. Aku menemukan sesuatu pada matamu: getir, ragu, curiga. Mata, kata orang, menyimpan sesuatu yang bisa dibaca. Apa yang bisa ku baca dari matamu yang seperti menyimpan getir, ragu, dan curiga?

Waktu berlalu beberapa detik dan kau mampu menyulap wajahmu kini menjadi sesungging senyum. Matamu kini tampak berbinar. 

Sembari tersenyum, kau mengakui kekeliruan itu. Kau minta maaf sudah mengabaikanku, dan memilih tertawa untuk lelucon yang lain. Tentu aku memaafkanmu. Tapi malam ini, rasanya aku dan kamu berdiri di panggung teater. Kita saling memerankan tokoh lain. Seluruh gesture tubuh kita menyembunyikan sesuatu dan menampakkan peran lain.

"Oh tak apa, tak apa! Aku mengerti kau pasti sedang sibuk membicarakan sesuatu dengan temanmu, kan? Aku juga akan begitu jika sedang asik membicarakan sesuatu dengan teman-temanku. Kita kadang menemukan sesuatu yang membuat kita terhibur dan lupa dengan yang lain. Itu hal yang wajar," kataku. Dan itu benar-benar terasa sebagai kata-kata yang muncul dari aku yang lain. Apakah kini aku jadi dua kepribadian. Satu diriku yang sejati. Satu lagi diriku yang berdiri di panggung dan memerankan tokoh tertentu.

"Maafkan aku, aku salah. Tak seharusnya aku mengabaikanmu. Ini hanya aku tak bisa melewatkan canda tawa temen-temenku di grup...". katamu. 

Aku tak langsung menanggapimu. Aku memilih diam sebentar sembari menyelidiki kedalaman matamu. Kata orang, mata tak bisa berbohong. Tapi bagaimana aku bisa memastikan itu. Di matamu, aku hanya melihatan kilatan cahaya malam.

"Di grup..?? Oh, aku pasti akan sangat terhibur dengan lelucon itu...", aku berpikir untuk melontarkan permintaan ini: boleh aku lihat? Tapi itu sama saja dengan mengatakan dengan terus terang: oh aku mencurigai sesuatu pada dirimu. 

Tidak. Di panggung ini, biarkan apa yang tampak di permukaan adalah sesuatu yang memang ingin ditampakkan oleh masing-masing diriku dan dirimu. Aku tak ingin merusak peran ini dengan menggali sesuatu yang tersembunyi di balik peran itu. 

"Ah, ini lelucon perempuan.. aku pasti malu kalau kau sampai tahu.." katamu sembari menunjukkan gaya manis manjamu. Ah, kau tak bisa menutupi 'sesuatu' itu dengan kemasan kemanjaanmu, sayang, kataku bermonolog dalam diriku.

"Oh begitu...ya, ya. Aku pasti tak suka dengan lelucon itu, jadi tak perlu aku mengetahui leluconmu itu, sayang" kataku sambil beranjak ke jendela lagi. 

Di langit, bintang-bintang masih berkelap-kelip. Di kota yang gelap dan sunyi, lampu-lampu menjelma bintang-bintang. Tapi sungguh aku tak bisa menikmati semua ini. Kepalaku sudah terisi dengan sesuatu yang ingin meledak. Tapi jika aku biarkan meledak begitu saja, kita akan kehilangan peran di panggung teater ini. Mungkin kita akan terkelupas: bagian diri kita masing-masing akan sama telanjang, dan di situ kita sama-sama berhadapan dengan kebenaran yang disembunyikan.

Ah, tak usahlah begitu. 

"Oh aku sepertinya melewatkan sesuatu yang menarik...", kataku.

"Apa itu?"

Aku pandang lagi matamu dalam suatu jarak. Kali ini sedikit lebih lama. Oh mungkin waktu berhenti sebentar memberi kesempatan pada kedua mata kita untuk saling bersitatap dalam permainan lakon drama malam ini. 

"Kau pasti tidak suka dengan kesukaanku yang satu ini. Lelucon yang ku sukai ini sangat buruk, amat buruk hahaha."

Kau hanya terlihat terdiam beberapa saat, lalau seperti tak peduli. Rasanya kau terlalu asik masyuk dengan yang lain, atau mungkin kau merasa bersalah dan membiarkan aku mencari penghiburan yang lain.

"Aku mau keluar sebentar, menikmati kota yang mulai sunyi ini."

Jam berdentang dua kali. Ku ambil jaket. Kukecup pipimu, dan aku melangkah pergi menemui penghiburan: dia yang lain. 

Malam ini, jika kamu bertanya, siapa pemilik kemesraan ini? Ah, tahulah aku jawabnya. Kemesraan itu telah dicuri oleh orang lain. Masing-masing kita punya setannya masing-masing. Kau dan dia, aku dan dia yang lain. 

Mari kita nikmati selagi panggung lakon kita belum selesai, sayang!

Tebet, 15 Desember 2025

Post a Comment