Nenek Elina, Madas dan Madura
Rontalin.com - Lagi-lagi Madas. Begitulah perasaan pertama yang muncul ketika saya menyaksikan video memilukan tentang pengusiran Nenek Elina. Sebuah video yang, rasanya, mustahil ditonton tanpa amarah. Seorang nenek berusia delapan puluh tahun, hidup seorang diri, diusir dari rumah yang ia tempati, lalu rumah itu diratakan dengan tanah. Tidak ada dialog yang manusiawi, tidak ada jeda untuk empati. Yang ada hanya kekerasan telanjang. Sungguh bejat.
Amarah pun spontan mengeras. Kepada siapa lagi jika bukan kepada Madas. Begitulah narasi yang segera beredar luas. Dalam banyak potongan video dan unggahan media sosial, pengusiran itu dilekatkan pada satu nama: Madas. Maka kemarahan publik pun menemukan alamatnya. Madas dianggap pelaku. Madas dicap biang kebiadaban. Dan emosi pun mengalir deras, bercampur antara marah, muak, dan kecewa.
Jujur, saya sendiri tidak terlalu paham apa itu Madas. Yang saya tahu, ada begitu banyak organisasi kemasyarakatan (Ormas) Madura. Bahkan dari informasi yang saya baca dan dengar, Madas pun bukan satu entitas tunggal. Ia terpecah dalam banyak kepengurusan. Madas yang mana? Siapa ketuanya? Apakah yang diketuai Muhammad Jusuf Rizal, pendiri dan mantan Ketua LIRA, atau yang lain? Saya tidak tahu. Dan publik pun tampaknya tidak benar-benar tahu.
Yang lebih saya tahu, setelah mencoba mendalami berbagai informasi, adalah bahwa tindakan pengusiran Nenek Elina dilakukan oleh seorang broker properti bernama Samuel Ardi Kristanto. Ia warga Surabaya. Bukan orang Madura. Ia bertindak untuk kepentingan pribadinya. Dan apa yang ia lakukan adalah tindakan premanisme yang tidak bisa ditoleransi. Tidak ada pembenaran moral, sosial, apalagi hukum, untuk mengusir seorang nenek renta dari rumahnya sendiri.
Dalam kacamata saya, kasus ini sejatinya terang benderang: ini adalah kasus premanisme. Titik. Maka solusinya pun jelas: penegakan hukum. Tidak ada jalan lain. Negara tidak boleh ragu, aparat tidak boleh gamang. Sampai di sini, seharusnya urusan selesai.
Masalahnya, kasus ini telanjur bergeser ke ranah etnis dan identitas. Ada dua pintu yang membuatnya demikian.
Pertama, keterlibatan Muhammad Yasin. Jejak digital yang beredar menunjukkan bahwa ia kerap dikaitkan dengan aksi-aksi premanisme. Jika benar ia anggota Madas, dan jika benar ia terlibat, maka seharusnya organisasi yang bersangkutan bertindak tegas. Memecat, bukan melindungi. Kedua, narasi bahwa “Madas mengusir Nenek Elina”. Narasi ini perlu diverifikasi dengan jernih. Apakah pengusiran itu dilakukan atas nama organisasi? Ataukah tindakan individu, Yasin yang disuruh Samuel?
Yang pasti, ini bukan konflik etnis. Ini bukan Madura versus siapa pun. Ini adalah konflik antara premanisme dan kemanusiaan. Antara kekerasan dan rasa keadilan. Antara aksi brutal dan lemahnya penegakan hukum. Dan pada titik ini, menggeser isu ke identitas justru mengaburkan masalah pokok.
Madas bukan Madura. Madura adalah entitas budaya, sejarah, dan masyarakat yang jauh lebih luas dan bermartabat daripada satu nama organisasi. Ada banyak ormas Madura, banyak tokoh, banyak tradisi yang menjunjung tinggi kehormatan, empati, dan solidaritas. Fakta bahwa satu nama ormas kerap terseret dalam kasus kekerasan belakangan ini tidak serta-merta menjadikannya wajah Madura.
Dan ini pun bukan fenomena khas ormas yang membawa embel-embel Madura. Di banyak tempat, kita juga melihat ormas dengan nama daerah lain, bahkan dengan label agama, yang terseret kasus premanisme. Namun akal sehat kita tahu: tindakan mereka tidak pernah merepresentasikan daerah atau agama yang mereka klaim. Maka logika yang sama harus berlaku di sini.
Yang harus dilawan adalah premanismenya, bukan identitasnya. Yang harus ditegakkan adalah hukumnya, bukan prasangkanya. Dan yang harus dijaga adalah kemanusiaan. Agar tidak lagi ada Nenek Elina lain yang terusir, dilumat, lalu ditinggalkan sendirian oleh negara yang seharusnya hadir sejak awal.
Subairi Muzakki
Jakarta, 29 Desember 2025

Post a Comment