Yang Keliru dari Argumen Ryu Hasan Soal Aktivisme Lingkungan

Table of Contents

 

Rontalin.com - Ryu Hasan boleh saja menganggap ajakan untuk menyelamatkan bumi (dengan mengurangi penggunaan sampah plastik, polusi dan lain sebagainya) sebagai pikiran naif yang lahir dari sikap narsistik homo sapiens sebab selalu menganggap diri penting.

Suka atau tidak, menurut Ryu, kepunahan adalah sesuatu yang niscaya. Makhluk bumi bahkan sudah mengalaminya sebanyak lima kali tanpa perlu adanya polusi, plastik, atau pemanasan global. Ada atau tidaknya problem yang saat ini dilawan oleh para aktivis lingkungan, di mata Ryu, menghindari kepunahan tak ubahnya menghalau ombak di lautan.

Dalam hemat penulis, sudut pandang ini setidaknya menyimpan beberapa persoalan. Namun, sebelum mengurai problem tersebut, penulis ingin menegaskan bahwa banyak di antara pikiran Ryu yang mempengaruhi penulis dalam kaitannya dengan apresiasi terhadap sains. Tetapi khusus pada isu lingkungan ini, penulis merasa bahwa ada yang keliru dalam cara pandang seorang Ryu Hasan. Penegasan ini penulis kemukakan untuk menunjukkan bahwa kritik penulis bukan didasari oleh kebencian personal, tetapi lebih kepada analisis argumen.

Penulis mencoba untuk membedah kekeliruan tersebut dalam sudut pandang tokoh bernama Vandana Shiva, aktivis lingkungan dan feminis dari India. Alasan mengapa upaya ini dilakukan adalah supaya cara pandang Ryu tak menjadi validasi bagi mereka yang sejatinya tak pernah memiliki kepedulian terhadap lingkungan.

Sains yang (Katanya) Netral

Dalam sebuah podcast bersama Gita Wirjawan (https://www.youtube.com/watch?v=iFghbhtpcUI), Ryu mendaku diri sebagai evolusionis yang berbasis pada epistemologi sains. Dia melihat bahwa alam semesta terus berevolusi tanpa maksud tertentu. Dan sialnya, proses ini menuju pada satu titik di mana keadaan semakin tidak teratur yang pada akhirnya mengantarkan kita pada kehancuran. Proses ini dikenal dengan entropi.

Dalam rentetan proses ini, manusia bisa apa? Ya, diam saja. Nikmati hidup selagi sempat. Kita berhadapan dengan kenyataan bahwa alam semesta semakin rusak tiap detiknya dan tindakan yang bisa kita ambil adalah: terima saja. Lagipula kita ‘kan hanya satu spesies yang mendiami satu ‘titik biru pucat’ (pale blue dot) bernama planet Bumi di tengah hamparan semesta.

Perspektif di atas nampak amoral, tetapi sains (secara epistemologis) hakikatnya memang amoral. Epistemologi sains tidak dirancang untuk menentukan baik dan buruk. Alasan ini yang membuat banyak orang menilai bahwa sains itu netral dan bebas nilai. Tetapi argumen ini telah mendapat kritik dari banyak pemikir. Sebab tidak jarang asumsi tentang netralitas sains hanya berada di permukaan.

Vandana Shiva dalam The Violence of The Green Revolution: Third World Agriculture, Ecology, and Politics (2016) memberikan contoh dari satu proyek berbasis sains yang disebut dengan Green Revolution di Punjab. Mula-mula ini dianggap sebagai proyek saintifik yang akah melahirkan keberlimpahan bagi masyarakat Punjab. Namun yang terjadi justru sebaliknya: konflik sosial yang berasal dari kehancuran alam akibat proyek yang gagal dan destruktif.

Shiva, melalui buku tersebut, menggugat proyek yang semula diinisiasi oleh pemerintah dan saintis itu. Bagi Shiva, pujian yang ditujukan pada epistemolgi sains dengan nuansa bebas nilainya justru menjadi masalah. Dia menulis, “…in contemporary times scientific activity has been assigned a privileged epistemological position of being socially and politically neutral. Thus science takes on a dual character. It offers technological fixes for social and political problems, but delinks itself from the new social and political problems it creates.” (Shiva, 2016).

Hakikatnya, pertimbangan sains memang terbatas pada apa yang ‘mungkin’ dan ‘bisa’ dilakukan. Epistemologi sains tidak bisa mencakup pertimbangan ‘apa yang sebaiknya’ dan ‘apa yang tidak semestinya’ dilakukan. Tak heran jika suatu malpraktik dalam suatu proyek saintifik yang melahirkan sains terapan seperti teknologi dan lain sebagainya, dalih para saintis kerap ditimpakan pada cara penggunaan, bukan pada epistemologi itu sendiri.

Kalaupun argumen perihal epistemologi sains ini kita sepakati, maka sudah seharusnya para saintis (atau siapa saja yang punya kegemaran terhadap sains) untuk mempertimbangkan perspektif lain (nilai dan moral), lebih-lebih jika orientasinya adalah sains terapan.

Bahwa sains akan terus berkembang dengan cepat, nampaknya memang suatu keniscayaan. Namun hal ini tidak berarti bahwa perkembangan tersebut dibiarkan secara membabi buta. Untuk itu, kita butuh fitur yang mampu untuk ‘memperlambat’ atau bahkan ‘menghentikan’ laju sains yang memang tak sesuai dengan nilai dan moral yang dipegang oleh segenap masyarakat tertentu. Bukankah tak semua hal yang ‘bisa’ itu mesti ‘dilakukan’? 

Relevansi Pengetahuan Lokal

Shiva kemudian beralih pada pengetahuan lokal. Menurutnya, sikap yang perlu didorong bukanlah antipati terhadap sains berikut produk terapannya. Tetapi kemampuan untuk membuat tapal batas supaya kita tahu kapan harus berhenti. Dalam konteks ini, pengetahuan lokal sangat layak untuk diketengahkan.

Alih-alih melihat masyarakat lokal sebagai sekelompok manusia yang uncivilized, justru masyarakat yang mendiami suatu wilayah tertentu dari generasi ke generasi, pastilah memiliki pengetahuan tentang alam yang ditempatinya. Ini melahirkan ragam pengetahuan dan teknologi yang layak serta kompatibel dengan alam yang menjadi tempat huni mereka. Segenap kebudayaan yang tercipta, dibentuk agar selaras dengan keberlanjutan alam. Contoh terkait hal ini tidak susah untuk dicari di berbagai kelompok masyarakat adat.

Misalnya, apa yang disebut dengan konsep Ibu Bumi. Ada semacam pemaknaan terhadap alam dan lingkungan yang ditinggali oleh kelompok masyarakat adat. Dalam kacamata sains, makna tentu merupakan suatu konsep yang tidak jelas epistemologinya. Tetapi dalam konteks keberlanjutan ekosistem serta alam, makna adalah suatu yang urgen. Dengan makna, manusia tidak hanya melihat alam sebagai entitas lain yang terpisah dengan kehidupan mereka. Bahwa kerusakan alam adalah juga bagian dari kerusakan mereka.

Kembali memperhatikan pengetahuan lokal, bagi Shiva, menjadi suatu keharusan di tengah prinsip ‘kemajuan’ dan ‘perkembangan’ yang tak kenal kata berhenti. Proses eksploitasi yang didasari oleh sistem akumulasi laba terus menerus adalah jelas kekeliruan. Satu-satunya agensi yang punya potensi untuk mengerem segala bentuk malpraktik ini hanyalah manusia. Alih-alih menganggap diri sebagai makhluk yang pasif, Shiva melihat bahwa ada satu hal yang tidak bisa dikesampingkan dari manusia, yaitu bahwa kita bisa berupaya.

Argumen ini menjadi kontras dengan pendapat Ryu yang mula-mula penulis terangkan. Melalui argumen di atas, kita bisa melihat bahwa keinginan untuk menjaga alam atau ekosistem yang berkelanjutan tidak bisa dimaknai hanya sebagai sikap sok penting kita sebagai makhluk. Upaya itu menjadi penanda bahwa kita sebagai manusia juga punya ruang untuk berusaha, bahwa kita bukan sekelompok makhluk pasif yang hanya bisa merusak. Lagipula, bukankah logika ini bisa menjadi sangat sederhana: jika manusia mampu merusak, artinya kita juga mampu untuk memperbaiki, bukan?!

Post a Comment