Jacques Pangemanann, Potret Ringkihnya Idealisme

Table of Contents

 


Idealisme akan selalu diuji ketika berhadapan dengan tampuk kekuasaan. Ya, idealisme tanpa integritas pada akhirnya hanya akan menjadi tai kucing: tidak lebih dari sekadar aroma tidak sedap bagi sekitarnya. Bahkan tai kucing masih memiliki manfaat bagi kehidupan—ia bisa dijadikan pupuk bagi tumbuhan. Sementara idealisme yang kehilangan integritas sering kali tidak menyisakan apa pun selain pembenaran kosong.

Dalam beberapa pekan terakhir, muncul satu pertanyaan yang terus mengganggu benak saya: mengapa idealisme kerap kali luntur ketika berhadapan dengan pemerintahan dan kekuasaan? Mengapa semangat perubahan yang lantang di awal perlahan berubah menjadi senyap, atau bahkan berbalik arah? 

Pertanyaan itu menemukan jawabannya ketika saya membaca Rumah Kaca, karya terakhir dalam Tetralogi Pulau Buru tulisan Pramoedya Ananta Toer.

Sekilas tentang Rumah Kaca

Berbeda dengan Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, dan Jejak Langkah yang menceritakan perjalanan Minke dari sudut pandangnya sendiri, Rumah Kaca justru menghadirkan kisah dari perspektif lain. Novel ini dituturkan melalui sudut pandang Pangemanann, sosok yang selama ini berada di balik layar, namun memiliki peran menentukan dalam perjalanan hidup Minke.

Pangemanann merupakan tokoh sentral dalam novel tersebut. Ia adalah lulusan Universitas Sorbonne, Prancis—sebuah institusi ternama yang telah melahirkan banyak pemikir dan tokoh berpengaruh. Latar belakang pendidikan ini membentuk Pangemanann sebagai sosok cerdas, rasional, dan pada awalnya, idealis.

Setelah menyelesaikan pendidikannya, Pangemanann bekerja sebagai polisi di Hindia Belanda. Kariernya melesat berkat rekam jejak yang dianggap cemerlang oleh penguasa kolonial: kemampuannya memberantas segala potensi yang dipandang dapat mengganggu stabilitas pemerintahan. Salah satu ancaman terbesar itu adalah seorang tokoh bernama Minke.

Pada fase awal pengabdiannya di Hindia Belanda, Pangemanann masih menyimpan idealisme yang kuat. Namun, perlahan ia dihadapkan pada sebuah persimpangan yang menentukan: antara mempertahankan idealisme atau mengamankan jabatan. Pada akhirnya, ia memilih jabatan—dengan alasan yang sangat manusiawi: ia telah berkeluarga dan memiliki anak yang harus dinafkahi.

Pergulatan batin itu semakin kompleks ketika Pangemanann mendapat perintah untuk menyelidiki Minke, sosok yang diam-diam ia kagumi. Ia menyaksikan sendiri kecerdasan, keberanian, dan konsistensi Minke dalam melawan ketidakadilan. Namun, kekaguman itu harus tunduk pada loyalitas terhadap kekuasaan.

Pergulatan batin Pangemanann tidak berhenti sampai Minke berhasil dijatuhkan dan diasingkan ke Ambon. Pengasingan itu dilakukan tanpa proses hukum yang adil. Tidak berhenti di sana, seluruh usaha Minke dibekukan dan diambil alih oleh pemerintah kolonial. Kekuasaan bekerja secara telanjang, tanpa perlu lagi berpura-pura.

Seiring naiknya jabatan Pangemanann sebagai semacam “tenaga ahli” pemerintahan Hindia Belanda, pergulatan batin yang dahulu mengusiknya perlahan memudar. Ia mulai menikmati posisi dan kuasa yang dimilikinya. Penindasan terhadap pribumi kian menjadi-jadi, terlebih setelah Minke—sebagai simbol perlawanan—disingkirkan dari panggung sejarah. 

Lima tahun kemudian, Minke kembali dari pengasingan. Pangemanann sendiri yang menjemputnya di Pelabuhan Tanjung Perak, atas perintah pemerintah kolonial. Tugasnya jelas: memastikan Minke tidak pernah kembali pada masa kejayaannya. Dalam fase ini, Pangemanann bahkan tampak menikmati kenyataan bahwa hidup Minke sepenuhnya berada dalam genggamannya.

Realis dan Idealis

Secara ideal, pemerintahan dengan segala kebijakannya seharusnya membangun sistem yang berpihak pada kesejahteraan masyarakat. Namun, antara yang ideal dan realitas ternyata terbentang jurang yang begitu dalam.

Konsep-konsep ideal sering kali hanya hidup di atas kertas. Ia menjadi sesuatu yang abstrak, melayang-layang tinggi di langit wacana, tetapi tak pernah benar-benar menjejak tanah kehidupan nyata. Dalam kondisi seperti ini, idealisme perlahan kehilangan daya magisnya.

Hari ini, idealisme seolah tinggal kata. Ia tak lagi mengandung keagungan, tak lagi memiliki daya gugah. Pertanyaannya kemudian: apa yang membuat politik elektoral begitu efektif membunuh idealisme? Adakah yang benar-benar mencoba menjelaskan mengapa hal ini terus berulang? Ataukah sejak awal politik memang tak pernah benar-benar lepas dari kepentingan pribadi?

Dari sosok Pangemanann, kita belajar bagaimana idealisme bisa luntur secara perlahan ketika berhadapan dengan politik kekuasaan. Ketika seseorang dipaksa memilih antara mempertahankan idealisme dengan risiko kehilangan kuasa, atau mempertahankan kuasa dengan konsekuensi melakukan penindasan, pilihan itu sering kali jatuh pada yang kedua.

Tidak sedikit orang seperti Pangemanann yang akhirnya meninggalkan idealisme demi mempertahankan posisi. Penindasan tak lagi dipersoalkan, begitu pula dampak panjang yang ditimbulkannya terhadap kehidupan manusia.

Di titik inilah, idealisme mulai mengalami pergeseran fungsi. Ia tidak lagi menjadi alat pembebasan, melainkan berubah menjadi pembenaran halus bagi praktik-praktik penindasan yang dilegitimasi oleh kekuasaan.

Apa yang sebenarnya dapat diharapkan dari kehidupan ketika penindasan terjadi di mana-mana? Idealisme pun berubah menjadi alat perpanjangan tangan penindasan, terutama ketika ia berselingkuh dengan kekuasaan. Dalam relasi yang timpang ini, idealisme kehilangan keberpihakannya.

Kehidupan seolah hanya diisi oleh penindasan demi penindasan. Ketika penindasan terhadap manusia belum juga memuaskan, alam pun ikut menjadi korban. Eksploitasi dilakukan tanpa rasa bersalah. Lalu, apa lagi yang bisa diharapkan dari kehidupan semacam ini?

Dalam Man’s Search for Meaning, Viktor Frankl menulis bahwa di dalam penderitaan selalu ada makna, dan makna itulah yang menyelamatkan manusia. Namun pertanyaannya: sampai kapan penderitaan harus terus dialami oleh mereka yang ditindas? Sampai kapan manusia dipaksa mencari makna di dalam luka yang diciptakan oleh sistem penindasan? Bukankah akan jauh lebih manusiawi jika makna kehidupan dicari tanpa harus melalui penderitaan yang disengaja?

Penindasan tidak pernah jatuh begitu saja dari langit. Ia merupakan hasil dari upaya sistemik, dirancang dan dijalankan oleh tangan-tangan manusia untuk melanggengkan kekuasaan.

Sejarah mencatat, perlawanan terhadap penindasan hampir selalu datang dari mereka yang berada di luar lingkaran pemerintahan. Namun, harga yang harus dibayar amat mahal. Ribuan, bahkan jutaan nyawa melayang demi sebuah cita-cita kesejahteraan bersama. Sebuah harga yang terlalu mahal—namun terus saja diulang—dalam perjalanan panjang umat manusia.


Post a Comment