Keris, Identitas, dan Generasi yang Mencari Akarnya
Menjelang senja di awal Maret, Aula Pondok Pesantren Tanwirul Hija di
Cangkreng, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, menjadi tampak lebih ramai
dari biasanya. Santri dan siswa-siswi yang berasal dari Mts dan SMA Tanwirul
Hija, serta MA Miftahul Ulum memenuhi ruangan tersebut.
Semuanya bersila. Bersahaja. Khidmat.
Ketika di luar ruangan langit perlahan meredup menuju waktu berbuka puasa,
di dalam aula pembicaraan justru kian mengalir dan hangat; menyalakan kembali
satu hal yang sering dianggap jauh dari kehidupan anak muda: keris.
Senin, 2 Maret 2026, pesantren tersebut mengaburkan garis demarkasi tentang
masa lalu dan masa depan. Melalui kegiatan Seminar Budaya Keris dan Buka Bersama, sebagai bagian
dari rangkaian Expo Keris Sumenep 2026 yang mengusung tema “Keris di
Madura: Identitas, Budaya, dan Sejarah” tersebut, muncul pemahaman bahwa masa lalu dan masa depan
adalah garis melingkar dan tidak bisa dipisahkan.
Ratusan siswa-siswi hadir mengikuti kegiatan yang tidak hanya berisi
pemaparan materi, tetapi juga percakapan tentang akar sejarah dan masa depan
budaya mereka sendiri.
Kegiatan ini terselenggara melalui Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana
Abadi Kebudayaan Tahun 2026 yang digulirkan Kementerian Kebudayaan Republik
Indonesia bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Program tersebut diarahkan untuk mendukung kegiatan kebudayaan yang
berkelanjutan, terutama yang berhubungan dengan penguatan literasi budaya di
kalangan generasi muda.
Bagi Pengasuh Pondok Pesantren Tanwirul Hija, KH. Ahmad Dumairi Asy’ari,
kegiatan semacam ini bukan sekadar seminar. Ia melihatnya sebagai kesempatan
bagi para siswa untuk menengok kembali asal-usul mereka.
“Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini sebab dengan program seperti ini
anak didik atau siswa siswi dapat mengetahui akar sejarah mereka,” ujarnya di
hadapan para peserta.
Sebelum kegiatan ini digelar, para siswa sebenarnya telah lebih dulu
melakukan perjalanan kecil menuju pusat kerajinan keris di Sumenep. Beberapa
waktu lalu mereka melakukan studi lapangan ke kawasan Aeng Tong-Tong, desa yang
dikenal luas sebagai kampung para empu: para pembuat keris.
“Kemarin siswa-siswi kami pernah studi lapangan ke Aeng Tong-Tong. Dari situ saya bersyukur dengan adanya kegiatan ini, sebab ini menjadi follow up pengetahuan bagi anak didik kami,” kata KH. Ahmad Dumairi.
Baginya, keris seharusnya tidak lagi dipahami sebagai artefak yang berjarak
dengan kehidupan generasi muda. Sebaliknya, ia berharap keris dapat hadir
sebagai sesuatu yang justru membangkitkan kebanggaan.
“Harapan saya adalah keris ini mampu menjadi semacam warisan yang tidak lagi
berjarak dengan generasi muda, tetapi justru sesuatu yang membuat mereka
bangga.”
Di hadapan para siswa, Fathor Rahman, seorang aktivis sekaligus pengrajin
keris di Sumenep, memulai pemaparannya dengan satu upaya sederhana: meluruskan
cara pandang.
Menurutnya, selama ini keris terlalu sering ditempatkan semata-mata dalam
ruang mistik, seolah-olah seluruh maknanya berhenti pada hal-hal yang tak
kasatmata.
“Yang paling penting dipahami bahwa keris ini bukan hanya urusan mistis dan
klenik. Banyak di antara awam yang melihat keris sebatas mistis. Padahal, keris
menyimpan makna yang lebih dalam daripada itu, baik secara spiritual maupun
filosofis,” jelasnya.
Ia kemudian memperkenalkan kepada para siswa berbagai pamor, pola yang
muncul dari proses tempa bilah keris. Setiap pamor, katanya, membawa simbol
sekaligus doa yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Pamor Beras Wutah, misalnya, melambangkan keberlimpahan
rezeki. Udan Mas sering dimaknai sebagai simbol keberuntungan
atau kekayaan. Ada pula Banyu Mili, yang menggambarkan harapan
agar rezeki mengalir lancar, serta Pedaringan Kebak yang
melambangkan kecukupan dan kemakmuran.
Bagi Fathor, simbol-simbol itu bukanlah klenik, melainkan harapan yang
disisipkan dalam karya seni yang ditempa dengan kesabaran dan ketekunan.
Ketika pembicaraan bergeser pada keris Madura, khususnya Sumenep, ia
menjelaskan bahwa daerah ini memiliki posisi penting dalam peta perkerisan
Nusantara.
“Para empu di Madura ini memiliki keunikan, sebab dibanding daerah lain yang
hanya mampu memproduksi keris jenis tertentu, para empu di Sumenep sangat
pandai dalam membuat jenis keris dari seluruh penjuru Nusantara,” katanya.
Ia menambahkan bahwa Sumenep juga menyimpan jumlah pengrajin yang sangat
banyak, terutama di kawasan Aeng Tong-Tong. Itulah salah satu alasan mengapa
daerah ini kemudian dikenal luas sebagai Kota Keris.
Dari sudut pandang berbeda, Syamsul Arifin, PhD, dosen Universitas Wiraraja
Sumenep, mengajak para siswa melihat keris tidak hanya sebagai warisan budaya,
tetapi juga sebagai peluang dalam dunia promosi dan pariwisata.
“Saya ingin melihat perihal budaya atau keris ini dalam kacamata yang memang
saya tekuni, yakni manajemen pariwisata,” katanya.
Menurutnya, generasi muda saat ini hidup dalam ekosistem teknologi yang
belum pernah dimiliki generasi sebelumnya. Media sosial, kecerdasan buatan, dan
berbagai platform digital membuka peluang baru bagi promosi budaya.
“Adik-adik siswa-siswi ini adalah generasi yang melekat dengan segenap
kecanggihan teknologi seperti media sosial dan AI. Dengan semua keberlimpahan
itu, besar harapan saya supaya kalian menjadi agen-agen yang mampu
memperkenalkan keris dengan lebih elegan, sesuai dengan gerak zaman, dan lebih
luas lagi.”
Syamsul menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan
dengan menyimpan atau merawatnya secara pasif.
“Budaya ini harus sustain. Dan untuk mencapai itu, harus ada
promosi. Nah, di situlah adik-adik dapat mengisi celah.”
Belajar tentang keris, menurutnya, tidak selalu berarti harus menjadi empu
atau pengrajin. Ada banyak cara lain untuk terlibat: menjadi penulis, peneliti,
penggerak komunitas, hingga promotor budaya.
Di penghujung pemaparannya, ia melemparkan pertanyaan yang langsung disambut
riuh para siswa.
“Siap nggak kalian mengisi celah itu? Menjadi agen-agen muda dalam
memperkenalkan keris lebih luas lagi?”
Di luar aula, waktu berbuka hampir tiba. Aroma makanan mulai tercium dari
sudut ruangan. Percakapan tentang keris pun perlahan bergeser menjadi obrolan
santai menjelang makan bersama.
Namun sore itu, setidaknya satu hal telah terjadi: keris, yang selama ini sering dianggap sebagai benda tua, misterius, dan jauh dari kehidupan anak muda, sedikit demi sedikit kembali menemukan ruangnya.
Di aula pesantren itu, keris tidak lagi sekadar bilah logam berlekuk. Ia menjelma menjadi cerita panjang tentang identitas, spiritualitas, kreativitas, dan daya tahan budaya Madura. Sebuah cerita yang kini mulai diwariskan kembali kepada generasi yang kelak akan menentukan bagaimana kisah itu dilanjutkan.

.jpeg)


Post a Comment